Sabtu, 18 Mei 2013

Hubungan Tingkat Kecemasan Remaja Dengan Penyakit Kulit Jerawat (Acne) Di SMPN 8 Batam Tahun 2103



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Jerawat adalah adanya peradangan  dari kelenjar unit  pilosebaseus disertai dengan adanya    sumbatan keratin kulit.  Kelenjar unit pilosebaseus adalah tempat keluarnya rambut dikulit  berserta kulitnya. Sedangkan yang dimaksud keratin adalah lapisan paling luar dari ari (Dewi, 2009).

Masalah jerawat dapat memberikan kesan psikologis yang buruk pada remaja, terutama remaja dalam masa sekolah, pada tahap ini faktor percaya diri remaja serta aktivitas pergaulan sosial amat penting. Walaupun masalah ini dianggap ringan dan bisa diobati sendiri namun jerawat juga menimbulkan kesan fisikal dan emosi yang sering kali mempunyai masalah yang mempunyai kaitan dengan harga diri, keyakinan terhadap diri sendiri dan pergaulan sosial (Adhy, 2012).

Lebih dari 40 persen remaja menderita jerawat atau bekas jerawat di usia pertengahan remajanya, sebagian besar dikarenakan oleh adanya perubahan aktivitas hormonal. American Academy of Dermatology menuturkan kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang serius bagi remaja. Meskipun jerawat ini sangat umum di kalangan remaja, tapi masih banyak yang merasa marah atau malu jika memiliki jerawat, terutama jika memiliki jerawat nodular yang membuatnya menghindari situasi sosial. Jerawat yang timbul bisa ringan hingga parah yang menyebabkan kista atau nodul. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi folikel rambut di kulit yang menyumbat sel kulit mati serta minyak. Dalam hal ini bakteri yang hidup di kulit juga bisa turut berperan. Dalam Journal of Paediatrics and Child Health peneliti menemukan jerawat terkait dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi serta depresi pada remaja yang berusia antara 12-18 tahun, seperti dikutip dari Livestrong,  Sedangkan studi lain menemukan remaja yang mengunjungi dokter kulit untuk mengatasi masalah jerawat memiliki kesulitan emosional dan sosial yang setingkat dengan pasien epilepsi atau diabetes. Serta ada pula bukti lain yang menunjukkan ketika gejala masalah mental atau emosional parah, maka remaja ini mengalihkannya dengan mengonsumsi makanan junk food sehingga membuat jerawat bertambah parah (Bararah, 2012).

Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, yang artinya tumbuh dan tumbuh untuk mencapai kematangan. Istilah adolesence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini didukung oleh Paget yang menyatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari masa pubertas (Andy, 2012). kecemasan  adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan perasaan tidak   menentu  dan tidak berdaya (Suratno, 2005).

Dalam Journal of Paediatrics and Child Health peneliti menemukan jerawat terkait dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi serta depresi pada remaja yang berusia antara 12-18 tahun, seperti dikutip dari Livestrong,  Sedangkan studi lain menemukan remaja yang mengunjungi dokter kulit untuk mengatasi masalah jerawat memiliki kesulitan emosional dan sosial yang setingkat dengan pasien epilepsi atau diabetes. Serta ada pula bukti lain yang menunjukkan ketika gejala masalah mental atau emosional parah, maka remaja ini mengalihkannya dengan mengonsumsi makanan junk food sehingga membuat jerawat bertambah parah (Bararah, 2012).

Lebih dari 40 persen remaja menderita jerawat atau bekas jerawat di usia pertengahan remajanya, sebagian besar dikarenakan oleh adanya perubahan aktivitas hormonal. American Academy of Dermatology menuturkan kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang serius bagi remaja (Bararah, 2012). Hampir 85% dari orang yang tinggal di Amerika Serikat mengembangkan jerawat antara 12 sampai 25 tahun (Hamzah, 2012).

Data presurve yang telah penulis lakukan pada tanggal 29 April 2013 di SMPN 8 kota Batam, terdapat 86 siswa yang berjerawat, dan dari 86 siswa yang berjerawat tersebut, penulis mewancarai 15 siswa diantaranya, dan dari hasil wawancara yang didapatkan yaitu siswa yang berjerawat merasa cemas dan kurang percaya diri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Melihat fenomena di atas maka penulis tertarik ubtuk meneliti “hubungan tingkat kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne) pada siswa di SMPN 8 kota Batam tahun 2013.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada  hubungan tingkat kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne)”.

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1  Tujuan Umum
Dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan tingkatt kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat pada siswa di SMPN 8 Batam tahun 2013.

1.3.2  Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap pencegahan jerawat.
b.   Untuk mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap penyebab terjadinya jerawat.
c.    Untuk mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap harga diri remaja.
d.   Untuk mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap identitas diri remaja..

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1  Bagi Institusi Pendidikan Universitas Batam
Diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berguna bagi almermater dan  dapat dijadikan sebagai dibahan bacana dan referensi bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian sejenis.
1.4.2  Bagi Institusi Pendidikan SMPN 8 Kota Batam
 Sebagai sumber informasi dalam memberikan penyuluhan pada remaja tentang hubungan kecamasan terhadap jerawat.
1.4.3  Bagi Remaja
Memberikan informasi khususnya remaja tentang hubungan tingkat kecemasan dengan timbulnya jerawat.
1.4.4  Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai sarana pembelajaran melakukan penelitian ilmiah sekaligus mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dan semoga penelitian ini bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Cemas
2.1.1     Definisi
Adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan perasaan tidak menentu  dan tidak berdaya (Suratno, 2005). Kecemasan (Anxiety) sebetulnya merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan. Namun dalam beberapa kasus, menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan seseorang ketakutan yang tidak rasional terhadap sesuatu hal. Kecemasan berbeda denganphobia (fobia), karena tidak spesifik untuk situasi tertentu. Kecemasan dapat menyerang siapa saja, setiap saat, dengan atau tanpa alasan apapun (Jenny, 2012).

2.1.2     Pengukuran Tingkat Kecemasan
Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale).  Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptompada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14syptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor( skala likert) antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe) (Tawi, 2012).

Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic.  Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable.
Skala HARS Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)  penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi: (Tawi, 2012).
a.    Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tensinggung.
b.   Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu.
c.    Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang besar.
d.   Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk.
e.    Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi.
f.    Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
g.   Gejala somatik: nyeni path otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
h.   Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah.
i.     Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap.
j.     Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek.
k.   Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut.
l.     Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
m. Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala.
n.   Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat (Tawi, 2012).

2.1.3     Penilaian Tingkat Kecemasan
Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori: (Tawi, 2012)
0 = tidak ada gejala sama sekali
1 = Satu dari gejala yang ada
2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada
3 = berat/lebih dari ½ gejala yang ada
4 = sangat berat semua gejala ada
Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:
1.   Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.
2.   Skor 7 – 14 = kecemasan ringan.
3.   Skur 15 – 27 = kecemasan sedang.
4.   Skor lebih dari 27 = kecemasan berat (Tawi, 2012).

2.1.4     Tingkat Kecemasan
Tingkat Kecemasan menurut Peplou terbagi atas : (Suratno, 2005)
a.    Kecemasan ringan
Dihubungkan dengan ketegangan  yang dialami sehari-hari.individu  masih waspada serta lapang persepsinya meluas. Dapat memutivasi Individu untuk  belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
b.   Kecemasan Sedang
1.   individu berfokus hanya pada fikiran yang menjadi perhatianya, trjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain.
2.   pasutri yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan resiko tinggi.
3.   individu yang mengalami konflik dalam pekerjaan.

c.    Kecemasan berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit.Pusat perhatiannya pada detil yang spesifik   dan tidak dapat berfikir tentang hal-hak lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
d.   Panik
Individu kehilangan kendali diri, tidak melakukan apapun meskipun dengan perintah. Berkurangnya kemampuan berhubungan  dengan orang lain. Penyimpangan persepsi dan hilangnya fikiran rasional (Suratno, 2005).

2.1.5     Faktor Predisposisi Kecemasan
a.   Teori Psikoanalitik
1.   Konflik  emosinal terjadi antara 2 elemen kepribadian : id dan supert ego.
2.   Id : mewakili dorongan  insting  dan impuls  primitive seseorang.
3.   Super ego : mencerminkan hati nurani  seseorang dan dikenalkan  oleh norma   budaya seseorang .
4.   Ego : menengahi tuntutan dari 2 elemen yang bertentangan.
5.   Fungsi ansietas  atau cemas : mengingatkan ego bahwa ada bahaya (Suratno, 2005).
b.   Teori interpersonal
1.   Menurut “Sullivan”, cemas tibul akibat  ketidakmampuan untauk berhubungan interpersonal dan sebagai akibat penolakan.
2.   Orang dengan harga diri rendah, mudah mengalami kecemasan yang berat.
c.    Teori Perilaku
1.   Kecemasan merupakan hasil dari frustasi  akibat berbagai hal, yang mempegaruhi individu dalam  mencapai tujuan  yang diinginkan.
2.   Individu yang terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan, lebih sering menunjukan kecemasan pada kehidupan selanjutnya (Suratno, 2005).
d.   Teori Keluarga
Kecemasan selalu ada pada tiap-tiap keluarga dalam berbagai bentuk dan sifatnya heterogen.
e.    Teori Biologik
1.   Otak memiliki reseptor  khususs terhadap benzodiazepine, reseptor tersebut  berfungsi membantui  mengatur kecemasan. Hal ini berhubungan dengan aktivita neurotransmitter gamma amino  butyric acid (gamma),  yang mengontrol aktivita neuron dibagian otak  yang bertujuan menghasilkan kecemasan.
2.   Individu yang sering mengalami kecemasan, mempunyai masalah dengan proses neurotransmitter ini (Suratno, 2005).

2.2  Jerawat
2.2.1  Definisi
Jerawat adalah adanya peradangan  dari kelenjar unit  pilosebaseus disertai dengan adanya sumbatan keratin kulit. Kelenjar unit pilosebaseus adalah tempat keluarnya rambut dikulit  berserta kulitnya. Sedangkan yang dimaksud keratin adalah lapisan paling luar dari ari (Dewi, 2009).
2.2.2  Penyebab jerawat
Penyebab sebenarnya mengapa seseorang  mempunyai  jerawat dan yang lain tidak  punya  m,asih belum diketahui  secara menyeluruh. Menurut penelitian, ada beberapa faktor  yang menyebabkan jerawat  secara umum antara lain: (Dewi, 2009).
a.    Stres
b.   Keturunan dari orang tua (gen)
c.    Aktivitas hormon
d.   Adanya kelenjar minyak  yang berlebih
e.    Bakteri dipori-pori kulit
f.    Iritasi kulit (misal jerawat digaruk dengan tangan)
g.   Pil pengontrol kelahiran / pil KB, namun banyak wanita mengalami penurunan munculnya jerawat semasa pemakaian pil
h.   Berada dalam lingkungan dengan kadar clorine yang tinggi, terutama cblorinated dioxins, yang menyebabkan jerawat serius yang disebut Cblorine yang tinggi, terutama cblorinated dioxins, yang menyebabkan jerawat serius yang disebut cblorance.
i.     Adanya penyumbatan saluran pembuangan kelenjar  minyak pada kulit.
j.     Banyaknya produksi kelenjar minyak.
k.   Banyaknya bakteri propionibacteri acnes pada saluran kelenjar sebasea dengan  didukungan kurangnya kebersihan kulit,  yang mana hal ini bias mengakibatkan infeksi / pembengkakkan pada jerawat dan seringnya memakai steoid.

2.2.3  Tipe Jerawat Dan Penanganan Dini
 Jerawat memang suatu hal yang menyebalkan karena akan membuat penampilan terlihat kurang menarik dan kepercayaan diri pun akan menurun. Untuk mengobati jerawat, pertama kali yang harus dilakukan adalah harus mengenali jenis jerawat yang sering muncul diwajah. Berikut ini adalah jenis jerawat yang harus  dikenali. Pada umumnya jerawat dibagi menjadi 3 bagian : (Dewi, 2009).
a.   Jerawat Komedo
Komedo adalah nama ilmah dari pori-pori yang tersumbat, komedo bias terbuka atau tertutup. Komedo yang terbuka disebut sebagai blackhead comedo yang awalnya berwarna putih pucat, terlihat seperti pori-pori yang membesar dan menghitam. Berwarna hitam sebenernya bukan kotoran tetapi penyumbatan  pori yang berubah warna karena teroksidasi dengan udara. Sedangkan komedo yang tertutup  atau whitehead yang warnanya berubah menjadi kehitaman. Jerawat jenis komedo  disebabkan oleh sel-sel  kulit mati dan kelenjar minyak yang berlebihan pada kulit.
b.   Jerawat Radang
Jenis jerawat klasik ini mudah dikenal  yaitu  terdapat tonjolan kecil berwarna pink atau kemerahan. Hal ini terjadi karena pori-pori yang tersumbat terinfeksi dengan bakteri yang terdapat dipermukaan kulit, dari waslap, kuas makeup, jari tangan atau dari telepon. Stres, hormone dan udara  yang lembab dapat pembesaran kemungkinan infeksi jerawat karena penjebabnya hormone biasanya muncul disekitar rahang dan dagu.
c.    Cystic Acne (Jerawat Batu)
 Atau yang biasa dikenal dengan jerawat Konglobata. Biasanya jerawat ini besar dengan tonjolan-tonjolan yang meradang  hebat dan berkumpul diseluruh wajah. Jerawat ini memeng sangat merusak penampilan, tetapi tidak secara fisik saja tapi juga kepercayaan diri. Biasanya penderita jerawat ini dikarenakan faktor genetik yang memiliki kelenjar minyak yang over aktif dan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak normal tidak bias regenirasi  secepat kulit normal kulitnya juga memiliki respon yang berlebihan terhadap peradangan sehingga meninggalkan bekas  dikulit.
Cara mencegahnya adalah mengkonsultasikan kepada dokter kulit dan meminta resep pil antibiotic seperti tetracycline. Bila dalam sebulan tidak ada tanda-tanda perbaikan, mungkin dokter akan memberikan resep baru. Meskipun penyembuhanya memakan waktu hingga lima bulan tapi diangap sebagai obat mujarab pilihab terakhir.
Pengobatan untuk jerawat batu  adalah meminta dokter kulit  menyuntik jeraqwat  dengan cortisone yang membuat jerawat ini sembuh dengan waktu 48 jam. Jika saat diobati ternyata jerawat  termasuk dalam kasus yang kronis maka akan mengalami beberapa efek samping seperti bibir pecah –pecah yang parah. Jadi mulailah waspada jenis jerawat yang  ada diwajah. Dan yang lebih baik, konsultasi dengan dokter sebelum mengobati jerawat (Dewi, 2009).

2.2.4     Kode Genetik Bakteri Penyebab Jerawat
Jerawat merupakan kelainan kulit yang dikenal dengan acne vulgaris. Biasanya jerawat menyerang yang memasuki masa puber, atau remaja. Pada masa itu terjadi perubahan hormonal yang meransang kelenjar  minyak pada kulit. Kelenjar tadi akan membesar dan menghasilkan minyak yang lebih banyak. Minyak ini dialirkan ke foliker rambut, yaitu bangunan yang membentuk kantung menggelilingi akar rambut, lalu dikeluarkan dipermukaan kulit lewat pori-pori kulit (Dewi, 2009).

Pada kondisi tertentu pori-pori kulit ini tertutup sehingga minyak menumpuk dikantung itu. Sumbatan ini bias terinfeksi  kuman yang hidup disekitar folikel sehingga menimbulkan peradangan, bengkak dan pernanahan. Sebanyak 80 persen permasalahan kulit ini menimpa usia dewasa muda. Meski bergtu, yang berusia lanjut pun tak terhidar dari masalahan ini. Tak hanya karena persoalan, masalah jerawat terkait dengan gangguan disekitar forikel rambut (karatinisasi), dan juga bakteri. Menurut dr 1 sukarata Sp KK dari bagian penyakit kulit dan kelamin FKUI RSUPN- cipto bagunkusumo, penyebab jerawat pada tiap orang berbeda-beda. “Hanya saja, yang jelas senang dari tiga faktor penyebab tadi,” hujarnya ketika dihubumgi dijakarta, akhir pecan lalu. Selain itu, lanjut Surakarta, ada faktor pendukung lainya yang memicu munculnya jerawat. Faktor lainnya adalah stress, makan, dan pola hidup. Jerawat, lanjutnya, bias terjadi pada bagian tubuh yang subur ditumbuhi jerawat antara lain permukaan kulit diwajah, leher, legan bagian atas, punggung atas, kulit kepala, dabn dada atas. Menurut faktor kulit dr. titi moertolo, tingkat keparahan jerawat beragam. Itu tergantung pada kondisi kulit penderita dan faktonr pendukung lainnya. Sekala keparahanya boleh dari ringan hingga keparah, jari-jarinya epidermis hingga kedernis (Dewi, 2009).

2.2.5     Pengobatan jerawat
a.   Mengobati jerawat ringan
Mayoritas orang-orang yang mendapatkan jerawat akan mengembangkan jerawat ringan. Hal ini biasanya dapat diobati dengan pengobatan langsung. Obat tersebut dapat dibeli di apotek tanpa resep dokter. Mereka biasanya diterapkan pada kulit – obat topikal.
Sebagian besar produk obat jerawat mungkin berisi bahan aktif seperti berikut: (Momydev, 2013).
1.      Resorsinol – membantu memecah komedo dan whiteheads. Ini adalah fenol kristal dan berasal dari berbagai resin. Resorsinol juga digunakan untuk mengobati ketombe, eksim dan psoriasis.
2.      Peroksida benzoil – membunuh bakteri dan memperlambat produksi kelenjar minyak Anda. Benzoil peroksida adalah peroksida kristal putih yang digunakan dalam pemutihan (tepung atau minyak atau lemak) dan sebagai katalis untuk reaksi radikal bpembersihan pori-pori, yang pada gilirannya mengurangi jumlah bakteri di daerah yang terkena.
3.      Asam salisilat – membantu memecah komedo dan whiteheads, juga mengurangi penumpahan sel-sel yang melapisi folikel dari kelenjar minyak, efektif dalam mengobati peradangan dan pembengkakan. Asam salisilat adalah zat kristal putih yang juga digunakan sebagai fungisida, atau dalam membuat aspirin atau pewarna atau parfum. Hal ini menyebabkan epidermis untuk menumpahkan kulit lebih mudah, mencegah pori-pori dari menjadi tersumbat sementara pada saat yang sama memungkinkan ruang untuk sel-sel baru untuk tumbuh. Hal ini biasanya ditambahkan ke shampoo yang digunakan untuk mengobati ketombe.
4.      Sulfur – membantu memecah komedo dan whiteheads. Sulfur, dalam bentuk aslinya, adalah padatan kristal kuning. Sulfur telah digunakan selama berabad-abad untuk mengobati jerawat, psoriasis dan eksim. Para ilmuwan tidak yakin bagaimana belerang bekerja untuk membantu penyakit kulit. Kita tahu bahwa elemen sulfur tidak mengoksidasi perlahan menjadi asam sulfur yang merupakan agen pereduksi dan antibakteri ringan.
5.      Retin-A – membantu mencabut pori-pori tersumbat. Retin-A mengandung Tretinoin, asam dari vitamin A, juga dikenal sebagai all-trans retinoic acid (ATRA). Tretinoin juga digunakan untuk pengobatan leukemia promyelocytic akut. Retin-A telah digunakan secara luas untuk memerangi penuaan kulit, juga bertindak sebagai peel kimia.
6.      Asam azelaic – memperkuat sel-sel yang melapisi folikel, berhenti letusan minyak, mengurangi pertumbuhan bakteri. Ini adalah asam dikarboksilat jenuh ditemukan secara alami dalam gandum, rye, dan barley. Asam azelaic juga pel up radikal bebas, yang mengurangi peradangan. Hal ini berguna untuk pasien dengan kulit gelap yang memiliki bercak-bercak hitam di wajah mereka (melasma), bintik-bintik jerawat atau yang meninggalkan bekas coklat persisten (Momydev, 2013).

2.3  Kerangka Teori
2.3.1     Defenisi Kerangka teori
adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang diketahui dala suatu masalah tertentu (Rumengan, 2008).
Tabel 1.
Kerangka Teori
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jerawat

Jerawat
a.       Faktor internal
1.      Keluarga
2.      Usia
3.      Cemas
4.      Setres
b. Faktor eksternal
1.      Debu
2.      Kulit berminyak
3.      Lingkungan

 









Sumber : (Rumengan, 2008)


Keterangan :
                                           :     Diteliti
 

                                 :      Tidak diteliti




















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Kerangka Konsep Penelitian
Konsep adalah abstrak yang terbentuk oleh generalisasi dan hal–hal khusus.Oleh karena konsep itu merupakan abstrak maka konsep tidak bisa langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati untuk diukur melalui konstruksi atau yang lebih dikenal dengan nama variable (Notoatmodjo, 2010).

  Variabel Independen                                         Variabel Dependen
Tingkat kecemasan
Penyakit kulit atau jerawat/acne

 


3.2  Hipotesis
Secara umum pengertian hipotesis berasal dari kata hipo (lebih) dan tesis (pernyataan), yaitu suatu pernyataan yang masih lemah dan memerlukan suatu pembuktian untuk menegaskan apakah hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak berdasarkan fakta atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian (Rumengan, 2008).

3.2.1  Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh vaiabel independen terhadap variabel dependen (jenis hipotesis korelasi) (Rumengan, 2008).
Ho: Tidak adanya hubungan tingkat kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne) pada siswa di SMP N.8 Batam tahun 2013.

3.2.1  Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan suatu hubungan, pengaruh, dan perbedaan antar dua variabel (Rumengan, 2008).
Ha: Ada hubungan tingkat kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne)

3.3  Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu symbol yang akan diberi angka atau nilai. Variabel penelitian merupakan konkrit dari kerangka konsep yang telah disusun (Rumengan, 2008).

3.3.1     Variabel Independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain (Rumengan, 2008).
Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan.

3.3.2     Variabel Dependen adalah variabel yang dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen (Rumengan, 2008).
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah jerawat.







Tabel 2.
Definisi Operasional

Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Skala Ukur
Kategori
Tingkat kecemasan
Hal-hal yang perlu di ukur untuk tingkat kecemasan remaja tentang timbulnya jerawat meliputi: Merasa cemas, merasa tegang.

Memberikan angket dengan cara memberi kuesioner
Kuesioner
Ordinal
> 6 (Tidak cemas)
7-14 (Cemas ringan)
15-27 (sedang)
>27
(Berat)

penyakit kulit jerawat (acne)

Hal-hal  perlu diukur tentang jerawat meliputi: penyebab terjadinya, pencegahan, dan pengobatan jerawat.
Memberi angket dengan cara membagi kuesioner
Kuesioner
Ordinal
76-100 (Baik)

56-75 (cukup)

< 56 (Kurang)

3.4  Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif yaitu bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai permasalahan (keadaan) untuk mengetahui keberadaan suatu masalah, besarnya masalah, luasnya masalah tersebut (Rumengan, 2008 ).
Desain yang di gunakan peneliti adalah desain penelitian korelasi dengan pendekatan Cross Sectional yaitu sebuah penelitian yang dilakukan dalam sekali waktu saja. Tidak ada perulangan dalam pengambilan data, itu berarti jika yang ingin diketahui adalah hubungan sebab dan akibatnya, maka keduanya diukur secara bersamaan (Rumengan, 2008).
3.5  Populasi dan Sampel
3.5.1  Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yng diteliti (notoatmodjo, 2005). yang menjadi populasi dalam penelitian adalah siswa-siswi yang berjerawat di SMP N 8 kota Batam sebanyak  86 orang.

3.5.2  Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Rumengan, 2008)
n =            N      
             1+N(d)2

n =      86         
        1+86 (0,1)2

=         86          
      1+86 (0,01)

=         86          
          1+0,86

=         86           = 46,236559. Dibulatkan menjadi 46 orang.
            1,86

Jadi sampel dalam penelitian ini adalah 46 responden.
a.   Tehnik Pengambilan Sampel
Tehnik pengambilan sampel ini dengan cara purposive sampling diadasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2005).
Sampel diambil dari siswa-siswi di sekolah menengah pertama negeri 8 kota Batam tahun 2013. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik puposive sampling, artinya semua subyek yang memenuhi syarat (kriteria inklusi) akan di ikut sertakan dalam penelitian ini sesuai dengan urutan kedatangan mereka. Pemilihan cara puposive  sampling adalah dengan pertimbangan bahwa cara tersebut secara teknis lebih mudah untuk dilakukan, penelitian akan dilakukan saat pasien akan pulang. Banyaknya subyek yang diambil sesuai dengan besar sampel yang telah dihitung sebelumnya.
b.   Kriteria Pengambilan Sampel
1)   Karakteristik Inklusi (penerimaan) yaitu karakteristik umum subyek penelitian pada populasi target dan pada populasi terjangkau (Sastroasmoro, 2002).
a)   Objek yang berjerwat
2)   Karaktersitik Eksklusi (penolakan) yaitu Keadaan yang menyebabkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi tidak dapat di ikut sertakan dalam penelitian (Sastroasmoro, 2002).
a)   Objek yang bersedia menjadi responden

3.6  Lokasi dan Waktu Penelitian
3.6.1  Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 8 kota Batam Tahun 2013.

3.6.2  Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Juli Tahun 2013

3.7  Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang dirancang dan dipergunakan oleh penulis menyusun sendiri mulai dari merencanakan sampai dengan mengisi pembuatan instrumen didasarkan atas tinjauan pustaka. Adapun cara dan pengadaan instrumen ini adalah menyususun kisi-kisi soal dan butir soal atau item pertanyaan. Indikator dalam penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tingkat kecemasan dengan timbulnya jerawat.

3.7.1  Kuesioner
Berisi pertanyaan demografi dengan pertanyaan terbuka yang memuat 4 pertanyaan terbuka. Pertanyaaan yang peneliti ajukan terdiri dari inisial nama,umur, jenis kelamin, dan alamat.
3.7.2  Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini dilakukann secara langsung kepada responden di SMP N 8 Kota Batam Tahun 2013.

3.8  Pengolahan  Data
Pengolahan data dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut . (Notoatmodjo, 2010).


3.8.1  Pemeriksaan Data (Editing)
Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.
3.8.2     Pengkodean Data (Coding)
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan peng ”kodean” atau “coding”,  yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode ini sangat berguna dalam memasukkan data (data entry)
3.8.3     Memproses Data (Processing) / Data Entry
Memasukkan  data yang telah diberi kode kedalam tabel kemudian diolah secara manual dengan mengolah data kuesioner.
3.8.4    Pembersihan Data (Cleaning)
Setelah semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan- kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidak lengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

3.9  Analisa Data
Setelah semua data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data, sehingga data tersebut dapat ditarik suatu simpulannya. Adapun data dianalisis yaitu :


3.9.1  Analisa Univariat
Analisa ini digunakan untuk menganalisa terhadap satu variabel. Untuk melihat distribusi frekuensi variabel tingkat kecemasan. Diberi nilai dan dibuat persentase dengan rumus yaitu :
P  x 100%

 


Keterangan :
P= Persentase
f= Frekuensi
N= Jumlah responden

3.9.2  Analisa Bivariat
Uji statistik untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan analisa Chi-Square. Apabila diperoleh P value < 0,05 maka Ho di tolak, berarti ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Begitu sebaliknya bila P value > 0,05 maka Ho diterima berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

3.10    Jadwal Penelitian
Sesuai dengan rencana, penelitian ini dimulai bulan Maret 2013. Jadwal kegiatan penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel. 3
Tabel Jadwal Penelitian

No
Kegiatan
Bulan
Maret
April
Mei
Juni
Juli
1
Pengajuan judul





2
Surat izin studi pendahuluan





3
Pembuatan proposal





4
Ujian proposal