BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jerawat adalah adanya
peradangan dari kelenjar unit pilosebaseus
disertai dengan adanya sumbatan
keratin kulit. Kelenjar unit
pilosebaseus adalah tempat keluarnya rambut dikulit berserta kulitnya. Sedangkan yang dimaksud
keratin adalah lapisan paling luar dari ari (Dewi, 2009).
Masalah jerawat
dapat memberikan kesan psikologis
yang buruk pada remaja, terutama remaja dalam masa sekolah, pada tahap ini
faktor percaya diri remaja serta aktivitas pergaulan sosial amat penting.
Walaupun masalah ini dianggap ringan dan bisa diobati sendiri namun jerawat
juga menimbulkan kesan fisikal dan
emosi yang sering kali mempunyai masalah yang mempunyai kaitan dengan harga
diri, keyakinan terhadap diri sendiri dan pergaulan sosial (Adhy, 2012).
Lebih dari 40 persen remaja
menderita jerawat atau bekas jerawat di usia pertengahan remajanya, sebagian
besar dikarenakan oleh adanya perubahan aktivitas hormonal. American Academy of Dermatology
menuturkan kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang
serius bagi remaja. Meskipun jerawat ini sangat umum di kalangan remaja, tapi
masih banyak yang merasa marah atau malu jika memiliki jerawat, terutama jika
memiliki jerawat nodular yang membuatnya menghindari situasi sosial. Jerawat
yang timbul bisa ringan hingga parah yang menyebabkan kista atau nodul. Hal ini
dipengaruhi oleh kondisi folikel rambut
di kulit yang menyumbat sel kulit mati serta minyak. Dalam hal ini bakteri yang
hidup di kulit juga bisa turut berperan. Dalam Journal of Paediatrics and
Child Health peneliti menemukan jerawat terkait dengan tingkat kecemasan
yang lebih tinggi serta depresi pada remaja yang berusia antara 12-18 tahun,
seperti dikutip dari Livestrong,
Sedangkan studi lain menemukan remaja yang mengunjungi dokter kulit
untuk mengatasi masalah jerawat memiliki kesulitan emosional dan sosial yang
setingkat dengan pasien epilepsi atau diabetes. Serta ada pula bukti lain yang
menunjukkan ketika gejala masalah mental atau emosional parah, maka remaja ini
mengalihkannya dengan mengonsumsi makanan junk food sehingga membuat jerawat
bertambah parah (Bararah, 2012).
Remaja yang
dalam bahasa aslinya disebut adolescence,
yang artinya tumbuh dan tumbuh untuk mencapai kematangan. Istilah adolesence sesungguhnya memiliki arti
yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan
ini didukung oleh Paget yang menyatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah
suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa,
suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang
yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki
masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari
masa pubertas (Andy, 2012). kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu
yang akan terjadi dengan perasaan tidak
menentu dan tidak berdaya
(Suratno, 2005).
Dalam Journal of Paediatrics
and Child Health peneliti menemukan jerawat terkait dengan tingkat
kecemasan yang lebih tinggi serta depresi pada remaja yang berusia antara 12-18
tahun, seperti dikutip dari Livestrong, Sedangkan studi lain menemukan remaja yang
mengunjungi dokter kulit untuk mengatasi masalah jerawat memiliki kesulitan
emosional dan sosial yang setingkat dengan pasien epilepsi atau diabetes. Serta
ada pula bukti lain yang menunjukkan ketika gejala masalah mental atau
emosional parah, maka remaja ini mengalihkannya dengan mengonsumsi makanan junk
food sehingga membuat jerawat bertambah parah (Bararah, 2012).
Lebih
dari 40 persen remaja menderita jerawat atau bekas jerawat di usia pertengahan
remajanya, sebagian besar dikarenakan oleh adanya perubahan aktivitas hormonal.
American Academy of Dermatology
menuturkan kondisi ini bisa menyebabkan masalah kesehatan dan sosial yang
serius bagi remaja (Bararah, 2012). Hampir 85% dari orang yang tinggal di
Amerika Serikat mengembangkan jerawat antara 12 sampai 25 tahun (Hamzah, 2012).
Data
presurve yang telah penulis lakukan pada tanggal 29 April 2013 di SMPN 8 kota
Batam, terdapat 86 siswa yang berjerawat, dan dari 86 siswa yang berjerawat
tersebut, penulis mewancarai 15 siswa diantaranya, dan dari hasil wawancara
yang didapatkan yaitu siswa yang berjerawat merasa cemas dan kurang percaya
diri dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Melihat
fenomena di atas maka penulis tertarik ubtuk meneliti “hubungan tingkat
kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne) pada siswa di SMPN 8 kota Batam tahun 2013.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada hubungan tingkat kecemasan remaja dengan
timbulnya penyakit kulit jerawat (acne)”.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan
Umum
Dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan tingkatt kecemasan remaja dengan
timbulnya penyakit kulit jerawat pada siswa di SMPN 8 Batam tahun 2013.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk
mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap pencegahan
jerawat.
b. Untuk
mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap penyebab
terjadinya jerawat.
c. Untuk
mengetahui hubungan kecemasan remaja dengan timbulnya jerawat terhadap harga
diri remaja.
d.
Untuk mengetahui hubungan kecemasan remaja
dengan timbulnya jerawat terhadap identitas diri remaja..
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan
Universitas Batam
Diharapkan dapat
memberikan sumbangan yang berguna bagi almermater dan dapat dijadikan sebagai dibahan bacana dan
referensi bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian sejenis.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan SMPN 8
Kota Batam
Sebagai sumber
informasi dalam memberikan penyuluhan pada remaja tentang hubungan kecamasan
terhadap jerawat.
1.4.3 Bagi Remaja
Memberikan informasi khususnya
remaja tentang hubungan tingkat kecemasan dengan timbulnya jerawat.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai sarana
pembelajaran melakukan penelitian ilmiah sekaligus mengaplikasikan ilmu yang
sudah didapat selama perkuliahan dan semoga penelitian ini bermanfaat bagi
peneliti selanjutnya.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Cemas
2.1.1
Definisi
Adalah kebingungan, kekhawatiran
pada sesuatu yang akan terjadi dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (Suratno, 2005). Kecemasan (Anxiety) sebetulnya
merupakan reaksi normal terhadap situasi yang menekan. Namun dalam beberapa
kasus, menjadi berlebihan dan dapat menyebabkan seseorang ketakutan yang tidak
rasional terhadap sesuatu hal. Kecemasan berbeda denganphobia (fobia),
karena tidak spesifik untuk situasi tertentu. Kecemasan dapat menyerang siapa saja,
setiap saat, dengan atau tanpa alasan apapun (Jenny, 2012).
2.1.2
Pengukuran Tingkat
Kecemasan
Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran
tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton
Anxiety Rating Scale). Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang
didasarkan pada munculnya symptompada individu yang mengalami
kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14syptoms yang nampak pada
individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5
tingkatan skor( skala likert) antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe)
(Tawi, 2012).
Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun
1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar
dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic.
Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi
untuk melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu
0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan
menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable.
Skala HARS Menurut Hamilton
Anxiety Rating Scale (HARS) penilaian kecemasan terdiri
dan 14 item, meliputi: (Tawi, 2012).
a.
Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah
tensinggung.
b.
Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan
lesu.
c.
Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila
tinggal sendiri dan takut pada binatang besar.
d.
Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari,
tidur tidak pulas dan mimpi buruk.
e.
Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit
konsentrasi.
f.
Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada
hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
g.
Gejala somatik: nyeni path otot-otot dan kaku,
gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
h.
Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka
merah dan pucat serta merasa lemah.
i.
Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi
mengeras dan detak jantung hilang sekejap.
j.
Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik,
sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek.
k.
Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi,
berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan,
perasaan panas di perut.
l.
Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing,
aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
m. Gejala vegetatif :
mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau
sakit kepala.
n.
Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar,
mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas
pendek dan cepat (Tawi, 2012).
2.1.3
Penilaian Tingkat
Kecemasan
Cara
Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori: (Tawi,
2012)
0
= tidak ada gejala sama sekali
1
= Satu dari gejala yang ada
2
= Sedang/ separuh dari gejala yang ada
3
= berat/lebih dari ½ gejala yang ada
4 = sangat berat semua
gejala ada
Penentuan
derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:
1.
Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.
2.
Skor 7 – 14 = kecemasan ringan.
3.
Skur 15 – 27 = kecemasan sedang.
4. Skor lebih dari 27 =
kecemasan berat (Tawi, 2012).
2.1.4
Tingkat
Kecemasan
Tingkat Kecemasan
menurut Peplou terbagi atas : (Suratno, 2005)
a. Kecemasan
ringan
Dihubungkan dengan
ketegangan yang dialami
sehari-hari.individu masih waspada serta
lapang persepsinya meluas. Dapat memutivasi Individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara
efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
b. Kecemasan
Sedang
1. individu
berfokus hanya pada fikiran yang menjadi perhatianya, trjadi penyempitan lapangan
persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain.
2. pasutri
yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan resiko tinggi.
3. individu
yang mengalami konflik dalam pekerjaan.
c. Kecemasan
berat
Lapangan persepsi individu sangat
sempit.Pusat perhatiannya pada detil yang spesifik dan tidak dapat berfikir tentang hal-hak
lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak
arahan untuk berfokus pada area lain.
d. Panik
Individu kehilangan
kendali diri, tidak melakukan apapun meskipun dengan perintah. Berkurangnya
kemampuan berhubungan dengan orang lain.
Penyimpangan persepsi dan hilangnya fikiran rasional (Suratno, 2005).
2.1.5
Faktor
Predisposisi Kecemasan
a.
Teori
Psikoanalitik
1. Konflik emosinal terjadi antara 2 elemen kepribadian
: id dan supert ego.
2. Id
: mewakili dorongan insting dan impuls
primitive seseorang.
3. Super
ego : mencerminkan hati nurani seseorang
dan dikenalkan oleh norma budaya seseorang .
4. Ego
: menengahi tuntutan dari 2 elemen yang bertentangan.
5. Fungsi
ansietas atau cemas : mengingatkan ego
bahwa ada bahaya (Suratno, 2005).
b.
Teori
interpersonal
1. Menurut
“Sullivan”, cemas tibul akibat
ketidakmampuan untauk berhubungan interpersonal dan sebagai akibat
penolakan.
2. Orang
dengan harga diri rendah, mudah mengalami kecemasan yang berat.
c.
Teori
Perilaku
1. Kecemasan
merupakan hasil dari frustasi akibat
berbagai hal, yang mempegaruhi individu dalam
mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Individu
yang terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang
berlebihan, lebih sering menunjukan kecemasan pada kehidupan selanjutnya
(Suratno, 2005).
d.
Teori
Keluarga
Kecemasan selalu ada pada tiap-tiap
keluarga dalam berbagai bentuk dan sifatnya heterogen.
e.
Teori
Biologik
1. Otak
memiliki reseptor khususs terhadap
benzodiazepine, reseptor tersebut
berfungsi membantui mengatur
kecemasan. Hal ini berhubungan dengan aktivita
neurotransmitter gamma amino butyric acid (gamma), yang
mengontrol aktivita neuron dibagian
otak yang bertujuan menghasilkan
kecemasan.
2. Individu
yang sering mengalami kecemasan, mempunyai masalah dengan proses
neurotransmitter ini (Suratno, 2005).
2.2 Jerawat
2.2.1 Definisi
Jerawat adalah adanya peradangan dari kelenjar unit pilosebaseus disertai dengan adanya sumbatan
keratin kulit. Kelenjar unit pilosebaseus
adalah tempat keluarnya rambut dikulit
berserta kulitnya. Sedangkan yang dimaksud keratin adalah lapisan paling luar dari ari (Dewi, 2009).
2.2.2 Penyebab jerawat
Penyebab
sebenarnya mengapa seseorang
mempunyai jerawat dan yang lain
tidak punya m,asih belum diketahui secara menyeluruh. Menurut penelitian, ada
beberapa faktor yang menyebabkan
jerawat secara umum antara lain: (Dewi,
2009).
a. Stres
b. Keturunan
dari orang tua (gen)
c. Aktivitas
hormon
d. Adanya
kelenjar minyak yang berlebih
e. Bakteri
dipori-pori kulit
f. Iritasi
kulit (misal jerawat digaruk dengan tangan)
g. Pil
pengontrol kelahiran / pil KB, namun banyak wanita mengalami penurunan
munculnya jerawat semasa pemakaian pil
h. Berada
dalam lingkungan dengan kadar clorine yang tinggi, terutama cblorinated
dioxins, yang menyebabkan jerawat serius yang disebut Cblorine yang tinggi, terutama cblorinated
dioxins, yang menyebabkan jerawat serius yang disebut cblorance.
i. Adanya
penyumbatan saluran pembuangan kelenjar
minyak pada kulit.
j. Banyaknya
produksi kelenjar minyak.
k. Banyaknya
bakteri propionibacteri acnes pada saluran kelenjar sebasea dengan didukungan kurangnya kebersihan kulit, yang mana hal ini bias mengakibatkan infeksi
/ pembengkakkan pada jerawat dan seringnya memakai steoid.
2.2.3 Tipe Jerawat Dan Penanganan Dini
Jerawat memang suatu
hal yang menyebalkan karena akan membuat penampilan terlihat kurang menarik dan
kepercayaan diri pun akan menurun. Untuk mengobati jerawat, pertama kali yang
harus dilakukan adalah harus mengenali jenis jerawat yang sering muncul
diwajah. Berikut ini adalah jenis jerawat yang harus dikenali. Pada umumnya jerawat dibagi menjadi
3 bagian : (Dewi, 2009).
a.
Jerawat
Komedo
Komedo adalah nama ilmah dari
pori-pori yang tersumbat, komedo bias terbuka atau tertutup. Komedo yang
terbuka disebut sebagai blackhead comedo yang awalnya berwarna putih pucat,
terlihat seperti pori-pori yang membesar dan menghitam. Berwarna hitam
sebenernya bukan kotoran tetapi penyumbatan
pori yang berubah warna karena teroksidasi dengan udara. Sedangkan
komedo yang tertutup atau whitehead yang
warnanya berubah menjadi kehitaman. Jerawat jenis komedo disebabkan oleh sel-sel kulit mati dan kelenjar minyak yang
berlebihan pada kulit.
b.
Jerawat
Radang
Jenis jerawat klasik
ini mudah dikenal yaitu terdapat tonjolan kecil berwarna pink atau
kemerahan. Hal ini terjadi karena pori-pori yang tersumbat terinfeksi dengan
bakteri yang terdapat dipermukaan kulit, dari waslap, kuas makeup, jari tangan
atau dari telepon. Stres, hormone dan udara
yang lembab dapat pembesaran kemungkinan infeksi jerawat karena
penjebabnya hormone biasanya muncul disekitar rahang dan dagu.
c.
Cystic Acne (Jerawat Batu)
Atau yang biasa dikenal dengan jerawat
Konglobata. Biasanya jerawat ini besar dengan tonjolan-tonjolan yang
meradang hebat dan berkumpul diseluruh
wajah. Jerawat ini memeng sangat merusak penampilan, tetapi tidak secara fisik
saja tapi juga kepercayaan diri. Biasanya penderita jerawat ini dikarenakan
faktor genetik yang memiliki kelenjar minyak yang over aktif dan pertumbuhan
sel-sel kulit yang tidak normal tidak bias regenirasi secepat kulit normal kulitnya juga memiliki
respon yang berlebihan terhadap peradangan sehingga meninggalkan bekas dikulit.
Cara
mencegahnya adalah mengkonsultasikan kepada dokter
kulit dan meminta resep pil antibiotic seperti tetracycline. Bila dalam sebulan tidak ada tanda-tanda perbaikan,
mungkin dokter akan memberikan resep baru. Meskipun penyembuhanya memakan waktu
hingga lima bulan tapi diangap sebagai obat mujarab pilihab terakhir.
Pengobatan
untuk jerawat batu adalah meminta dokter
kulit menyuntik jeraqwat dengan cortisone yang membuat jerawat ini
sembuh dengan waktu 48 jam. Jika saat diobati ternyata jerawat termasuk dalam kasus yang kronis maka akan
mengalami beberapa efek samping seperti bibir pecah –pecah yang parah. Jadi
mulailah waspada jenis jerawat yang ada
diwajah. Dan yang lebih baik, konsultasi dengan dokter sebelum mengobati
jerawat (Dewi, 2009).
2.2.4
Kode
Genetik Bakteri Penyebab Jerawat
Jerawat merupakan
kelainan kulit yang dikenal dengan acne vulgaris. Biasanya jerawat menyerang
yang memasuki masa puber, atau remaja. Pada masa itu terjadi perubahan hormonal
yang meransang kelenjar minyak pada
kulit. Kelenjar tadi akan membesar dan menghasilkan minyak yang lebih banyak.
Minyak ini dialirkan ke foliker rambut, yaitu bangunan yang membentuk kantung
menggelilingi akar rambut, lalu dikeluarkan dipermukaan kulit lewat pori-pori
kulit (Dewi, 2009).
Pada kondisi tertentu
pori-pori kulit ini tertutup sehingga minyak menumpuk dikantung itu. Sumbatan
ini bias terinfeksi kuman yang hidup
disekitar folikel sehingga menimbulkan peradangan, bengkak dan pernanahan.
Sebanyak 80 persen permasalahan kulit ini menimpa usia dewasa muda. Meski
bergtu, yang berusia lanjut pun tak terhidar dari masalahan ini. Tak hanya
karena persoalan, masalah jerawat terkait dengan gangguan disekitar forikel rambut (karatinisasi), dan juga bakteri. Menurut dr 1 sukarata Sp KK dari
bagian penyakit kulit dan kelamin FKUI RSUPN- cipto bagunkusumo, penyebab
jerawat pada tiap orang berbeda-beda. “Hanya saja, yang jelas senang dari tiga
faktor penyebab tadi,” hujarnya ketika dihubumgi dijakarta, akhir pecan lalu.
Selain itu, lanjut Surakarta, ada faktor pendukung lainya yang memicu munculnya
jerawat. Faktor lainnya adalah stress, makan, dan pola hidup. Jerawat, lanjutnya,
bias terjadi pada bagian tubuh yang subur ditumbuhi jerawat antara lain
permukaan kulit diwajah, leher, legan bagian atas, punggung atas, kulit kepala,
dabn dada atas. Menurut faktor kulit dr. titi moertolo, tingkat keparahan
jerawat beragam. Itu tergantung pada kondisi kulit penderita dan faktonr
pendukung lainnya. Sekala keparahanya boleh dari ringan hingga keparah, jari-jarinya
epidermis hingga kedernis (Dewi, 2009).
2.2.5 Pengobatan jerawat
a.
Mengobati
jerawat ringan
Mayoritas orang-orang yang
mendapatkan jerawat akan mengembangkan jerawat ringan. Hal ini biasanya dapat
diobati dengan pengobatan langsung. Obat tersebut dapat dibeli di apotek tanpa
resep dokter. Mereka biasanya diterapkan pada kulit – obat topikal.
Sebagian besar produk obat jerawat
mungkin berisi bahan aktif seperti berikut: (Momydev, 2013).
1. Resorsinol – membantu memecah komedo dan
whiteheads. Ini adalah fenol kristal dan berasal dari berbagai resin.
Resorsinol juga digunakan untuk mengobati ketombe, eksim dan psoriasis.
2. Peroksida benzoil – membunuh bakteri dan memperlambat
produksi kelenjar minyak Anda. Benzoil peroksida adalah peroksida kristal putih
yang digunakan dalam pemutihan (tepung atau minyak atau lemak) dan sebagai
katalis untuk reaksi radikal bpembersihan pori-pori, yang pada gilirannya
mengurangi jumlah bakteri di daerah yang terkena.
3. Asam salisilat – membantu memecah komedo dan
whiteheads, juga mengurangi penumpahan sel-sel yang melapisi folikel dari
kelenjar minyak, efektif dalam mengobati peradangan dan pembengkakan. Asam
salisilat adalah zat kristal putih yang juga digunakan sebagai fungisida, atau
dalam membuat aspirin atau pewarna atau parfum. Hal ini menyebabkan epidermis
untuk menumpahkan kulit lebih mudah, mencegah pori-pori dari menjadi tersumbat
sementara pada saat yang sama memungkinkan ruang untuk sel-sel baru untuk
tumbuh. Hal ini biasanya ditambahkan ke shampoo yang digunakan untuk mengobati
ketombe.
4. Sulfur – membantu memecah komedo dan
whiteheads. Sulfur, dalam bentuk aslinya, adalah padatan kristal kuning. Sulfur
telah digunakan selama berabad-abad untuk mengobati jerawat, psoriasis dan
eksim. Para ilmuwan tidak yakin bagaimana belerang bekerja untuk membantu
penyakit kulit. Kita tahu bahwa elemen sulfur tidak mengoksidasi perlahan
menjadi asam sulfur yang merupakan agen pereduksi dan antibakteri ringan.
5. Retin-A – membantu mencabut pori-pori
tersumbat. Retin-A mengandung Tretinoin, asam dari vitamin A, juga dikenal
sebagai all-trans retinoic acid (ATRA). Tretinoin juga digunakan untuk
pengobatan leukemia promyelocytic akut. Retin-A telah digunakan secara luas
untuk memerangi penuaan kulit, juga bertindak sebagai peel kimia.
6. Asam azelaic – memperkuat sel-sel yang melapisi
folikel, berhenti letusan minyak, mengurangi pertumbuhan bakteri. Ini adalah
asam dikarboksilat jenuh ditemukan secara alami dalam gandum, rye, dan barley.
Asam azelaic juga pel up radikal bebas, yang mengurangi peradangan. Hal ini
berguna untuk pasien dengan kulit gelap yang memiliki bercak-bercak hitam di
wajah mereka (melasma), bintik-bintik jerawat atau yang meninggalkan bekas
coklat persisten (Momydev, 2013).
2.3 Kerangka Teori
2.3.1
Defenisi
Kerangka teori
adalah suatu model yang menerangkan bagaimana
hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang diketahui dala
suatu masalah tertentu (Rumengan, 2008).
Tabel
1.
Kerangka
Teori
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Jerawat
|
Jerawat
|
|
a. Faktor
internal
1. Keluarga
4. Setres
|
|
b.
Faktor eksternal
1. Debu
2. Kulit
berminyak
3. Lingkungan
|
Sumber
: (Rumengan, 2008)
Keterangan
:
: Diteliti
: Tidak diteliti
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Konsep
adalah abstrak yang terbentuk oleh generalisasi dan hal–hal khusus.Oleh karena
konsep itu merupakan abstrak maka konsep tidak bisa langsung diamati atau
diukur. Konsep hanya dapat diamati untuk diukur melalui konstruksi atau yang
lebih dikenal dengan nama variable (Notoatmodjo, 2010).
Variabel
Independen
Variabel Dependen
|
Tingkat kecemasan
|
|
Penyakit kulit atau jerawat/acne
|
3.2 Hipotesis
Secara umum pengertian hipotesis
berasal dari kata hipo (lebih) dan tesis (pernyataan), yaitu suatu pernyataan
yang masih lemah dan memerlukan suatu pembuktian untuk menegaskan apakah
hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak berdasarkan fakta atau data
empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian (Rumengan, 2008).
3.2.1 Hipotesis nol (H0)
adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh vaiabel independen terhadap
variabel dependen (jenis hipotesis korelasi) (Rumengan, 2008).
Ho: Tidak adanya hubungan tingkat
kecemasan remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne) pada siswa di SMP
N.8 Batam tahun 2013.
3.2.1 Hipotesis alternatif
(Ha) adalah hipotesis
yang menyatakan suatu hubungan, pengaruh, dan perbedaan antar dua variabel
(Rumengan, 2008).
Ha: Ada hubungan tingkat kecemasan
remaja dengan timbulnya penyakit kulit jerawat (acne)
3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian
adalah suatu symbol yang akan diberi
angka atau nilai. Variabel penelitian merupakan konkrit dari kerangka konsep yang telah disusun (Rumengan, 2008).
3.3.1
Variabel
Independen
adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain
(Rumengan, 2008).
Variabel independen dalam
penelitian ini adalah tingkat kecemasan.
3.3.2
Variabel
Dependen adalah variabel
yang dijelaskan atau yang dipengaruhi oleh variabel independen (Rumengan,
2008).
Variabel dependen dalam penelitian
ini adalah jerawat.
Tabel 2.
Definisi
Operasional
|
Variabel
|
Definisi
Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Skala Ukur
|
Kategori
|
|
Tingkat
kecemasan
|
Hal-hal
yang perlu di ukur untuk tingkat kecemasan remaja tentang timbulnya jerawat
meliputi: Merasa cemas, merasa tegang.
|
Memberikan
angket dengan cara memberi kuesioner
|
Kuesioner
|
Ordinal
|
> 6 (Tidak cemas)
7-14 (Cemas ringan)
15-27 (sedang)
>27
(Berat)
|
|
penyakit kulit jerawat (acne)
|
Hal-hal perlu diukur tentang jerawat meliputi:
penyebab terjadinya, pencegahan, dan pengobatan jerawat.
|
Memberi angket dengan
cara membagi kuesioner
|
Kuesioner
|
Ordinal
|
76-100
(Baik)
56-75
(cukup)
<
56 (Kurang)
|
3.4 Desain Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode penelitian deskriptif
yaitu bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai permasalahan (keadaan)
untuk mengetahui keberadaan suatu masalah, besarnya masalah, luasnya masalah
tersebut (Rumengan, 2008 ).
Desain
yang di gunakan peneliti adalah desain penelitian korelasi dengan pendekatan Cross Sectional yaitu sebuah penelitian
yang dilakukan dalam sekali waktu saja. Tidak ada perulangan dalam pengambilan
data, itu berarti jika yang ingin diketahui adalah hubungan sebab dan akibatnya,
maka keduanya diukur secara bersamaan (Rumengan, 2008).
3.5 Populasi dan Sampel
3.5.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yng
diteliti (notoatmodjo, 2005). yang menjadi populasi dalam penelitian
adalah siswa-siswi yang berjerawat di SMP N 8 kota Batam sebanyak 86 orang.
3.5.2 Sampel
Sampel adalah
sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Rumengan, 2008)
n
= N
1+N(d)2
n
= 86
1+86 (0,1)2
= 86
1+86 (0,01)
= 86
1+0,86
= 86
= 46,236559.
Dibulatkan menjadi 46 orang.
1,86
Jadi
sampel dalam penelitian ini adalah 46 responden.
a.
Tehnik
Pengambilan Sampel
Tehnik
pengambilan sampel ini dengan cara purposive
sampling diadasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh
peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah
diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2005).
Sampel diambil dari siswa-siswi di
sekolah menengah pertama negeri 8 kota Batam tahun 2013. Pengambilan sampel
dilakukan dengan teknik puposive sampling, artinya semua
subyek yang memenuhi syarat (kriteria
inklusi) akan di ikut sertakan dalam
penelitian ini sesuai dengan urutan kedatangan mereka. Pemilihan cara puposive
sampling adalah dengan
pertimbangan bahwa cara tersebut secara teknis lebih mudah untuk dilakukan,
penelitian akan dilakukan saat pasien akan pulang. Banyaknya subyek yang
diambil sesuai dengan besar sampel yang
telah dihitung sebelumnya.
b.
Kriteria
Pengambilan Sampel
1) Karakteristik
Inklusi (penerimaan) yaitu
karakteristik umum subyek penelitian pada populasi target dan pada populasi
terjangkau (Sastroasmoro, 2002).
a) Objek
yang berjerwat
2) Karaktersitik
Eksklusi (penolakan) yaitu Keadaan yang menyebabkan subyek yang memenuhi
kriteria inklusi tidak dapat di ikut sertakan dalam penelitian (Sastroasmoro,
2002).
a) Objek
yang bersedia menjadi responden
3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.6.1 Lokasi Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan
di SMP N 8 kota Batam Tahun 2013.
3.6.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Juli
Tahun 2013
3.7 Alat Pengumpulan Data
Alat
pengumpulan data yang dirancang dan dipergunakan oleh penulis menyusun sendiri mulai dari merencanakan sampai dengan
mengisi pembuatan instrumen didasarkan atas tinjauan pustaka. Adapun cara dan
pengadaan instrumen ini adalah menyususun kisi-kisi soal dan butir soal atau item pertanyaan.
Indikator dalam penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tingkat
kecemasan dengan timbulnya jerawat.
3.7.1 Kuesioner
Berisi
pertanyaan demografi dengan pertanyaan terbuka yang memuat 4 pertanyaan
terbuka. Pertanyaaan yang peneliti ajukan terdiri dari inisial nama,umur, jenis kelamin, dan alamat.
3.7.2 Wawancara
Wawancara dalam penelitian ini dilakukann secara
langsung kepada responden di SMP N 8 Kota Batam Tahun 2013.
3.8 Pengolahan Data
Pengolahan
data dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut . (Notoatmodjo, 2010).
3.8.1 Pemeriksaan Data (Editing)
Hasil
wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk
pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.
3.8.2
Pengkodean
Data (Coding)
Setelah semua kuesioner
diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan peng ”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode ini sangat
berguna dalam memasukkan data (data entry)
3.8.3
Memproses
Data (Processing) / Data Entry
Memasukkan
data yang telah diberi kode kedalam tabel kemudian diolah secara manual
dengan mengolah data kuesioner.
3.8.4
Pembersihan
Data (Cleaning)
Setelah semua data dari setiap
sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk
melihat kemungkinan- kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidak
lengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
3.9 Analisa Data
Setelah semua data terkumpul
maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data, sehingga data tersebut dapat
ditarik suatu simpulannya. Adapun data dianalisis yaitu :
3.9.1 Analisa Univariat
Analisa
ini digunakan untuk menganalisa terhadap satu variabel. Untuk melihat
distribusi frekuensi variabel tingkat kecemasan. Diberi nilai dan dibuat
persentase dengan rumus yaitu :
|
P
x 100%
|
Keterangan :
P= Persentase
f= Frekuensi
N= Jumlah responden
3.9.2 Analisa Bivariat
Uji
statistik untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen dengan menggunakan analisa Chi-Square.
Apabila diperoleh P value < 0,05 maka Ho di tolak, berarti ada hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen. Begitu sebaliknya bila P
value > 0,05 maka Ho diterima berarti tidak ada hubungan antara variabel
independen dengan variabel dependen.
3.10
Jadwal
Penelitian
Sesuai dengan rencana, penelitian
ini dimulai bulan Maret 2013. Jadwal kegiatan penelitian dapat dilihat pada
tabel dibawah ini
Tabel.
3
Tabel
Jadwal Penelitian
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan
|
||||
|
Maret
|
April
|
Mei
|
Juni
|
Juli
|
||
|
1
|
Pengajuan
judul
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Surat
izin studi pendahuluan
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pembuatan
proposal
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Ujian
proposal
|
|
|
|
|
|